Selasa, 18 September 2012

Ingatlah Tanda Peringatan Ini Sebelum Menulis

Menulis sebuah artikel opini di sebuah suratkabar atau majalah itu mudah asal tahu caranya. Sebaliknya menjadi sulit sebab tidak tahu bagaimana memenuhi syarat yang sudah ditentukan pihak editor suratkabar atau majalah. Inilah persoalannya. Padahal hampir setiap suratkabar atau majalah menyediakan ruangan untuk penulis di luar pihak editor atau redaksi. Di sini diistilahkan sebagai penulis luar memberikan pedoman atau persyaratannya.

Pertama, panjang artikel opini Anda antara 500 kata hingga 650 kata panjangnya. Jumlah panjang kata di artikel opini ini bersifat manasuka bergantung pada kepentingan redaksi atau editor suratkabar atau majalah setempat. Jadi, sebelum mengirimkan artikel opini Anda, pastikan Anda memenuhi persyaratan minimal ini. Pihak redaksi atau editor suratkabar atau majalah agaknya ingin tulisan yang memenuhi persyaratan ini pertama-tama.

Tentunya, syarat kedua yang penulis artikel opini harus penuhi adalah membuat argumentasi tentang isu kebijakan publik dan tanggapan atas berbagai isu yang sedang diberitakan. Dengan kata lain, isunya harus isu yang sedang diberitakan atau isu hangat. Halaman opini biasanya memilih peristiwa yang sedang diberitakan pada hari ini daripada tahun lalu, bulan lalu, atau pekan lalu yang sudah basi.

Berikutnya membuat opini dan menyatakan opini itu dengan jelas, gamblang dan lugas. Tentu opini berbeda dengan penjelasan atas sebuah isu. Opini harus berisi argumentasi yang semua tahu (knowledgeable) tentang isu tersebut. Dengan kata lain, opini yang Anda sampaikan harus menjawab keingintahuan pembaca awam tentang isu tersebut.

Artikel opini Anda haruslah memberikan kritik atas gagasan, penalaran atau posisi yang Anda tidak setujui. Jangan sekali-kali menyerang atau mengkritisi penulis lain secara personal.

Artikel opini Anda harus ditulis dari umum ke khusus. Ada penulis menyarankan membuat premis dasar dari opini Anda. Sebaliknya hindari di awal tulisan, Anda hanya menyampaikan fakta-fakta dan membuat kesimpulan di bagian akhir. Pasti artikel opini Anda cocoknya dimasukkan ke dalam tong sampah.

Agar tulisan opini Anda dapat dimuat dan diterbitkan, banyak editor atau redaksi suratkabar menyukai orisinalitas opini Anda. Janganlah melakukan plagiat. Mengambil atau mengakui karya tulis orang lain sebagai artikel opini Anda. Wah, parah jadinya bila Anda melanggar pantangan ini.

Kemudian, artikel opini Anda haruslah menjelaskan sesuatu yang lain di luar reportase jurnalistik. Keunikan artikel opini itu membedah hal yang mendetail seperti itu. Seorang wartawan senior di Majalah Tempo mengatakan seperti itu. Contoh, ungkaplah secara analisis KPK vs Polisi terutama dari sisi kebobrokan polisi.

Artikel opini Anda haruslah independen. Anda tidak memiliki kepentingan dengan organisasi terkait. Penulis yang muatannya ditulis di halaman opini adalah orang-orang yang diharapkan memberikan pencerahan kepada publik tentang berbagai isu terkait. Bila ada konflik  kepentingan, tulisan yang berimbang harus diberikan ruang dari pihak redaksi atau editor.

Dari penjelasan mengenai berbagai hal tentang artikel opini yang dapat dibuat di halaman opini, terpenting tentunya tulisan Anda haruslah bernas, analitis dan enak dibaca. Hindari tulisan tajam tetapi kering hikmah.

Ketika menulis artikel opini, lebih baik Anda membahas sebuah isu dari peristiwa bukan isu. Seperti, ceritakan seminar yang Anda pernah ikuti yang berkaitan dengan isu tertentu. Hal ini menggambarkan sebuah gambaran yang menyegarkan kepada pembaca.

Yang terakhir, artikel opini Anda jangan sekali-kali menggunakan bahasa makalah. Caranya, anda harus lebih membumikan konsep atau teori Anda melalui perumpamaan, padanan atau contoh yang pembaca awam dapat mengerti. Gunakan bahasa Indonesia yang umum digunakan. Sebaliknya, hindari menggunakan jargon, istilah atau terma yang pembaca awam kurang menguasai atau memahami. Kata bijak: Bagi orang pintar, jelaskan masalah rumit itu dengan bahasa atau kalimat yang mudah untuk difahami.

Yang paling akhir, jangan mengirim artikel opini Anda ke lebih dari satu suratkabar atau majalah.

Jangan lupa, kirimkan via email redaksi atau editor terkait. Cari tahu alamat emailnya. Tulislah CV singkat Anda dengan bahasa yang singkat, padat dan sopan.

Selanjutnya Anda menunggu artikel opini Anda untuk dimuat. Selama menunggu, teruslah menulis, menulis dan menulis. Janganlah bosan-bosanlah untuk menulis meskipun artikel opini Anda ditolak.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar