Jumat, 18 Februari 2011

Sudut Pandang dalam Cerpen

Salah satu unsur intrinsik cerpen adalah sudut pandang (point of view). Di antara unsur intrinsik lainnya tema, tokoh, plot, sudut pandang juga berperan penting untuk membangun cerita secara apik dan menarik. Sudut pandang (POV) lebih berkaitan dengan posisi cerpenis dalam cerita. Ada tiga posisi yang digunakan cerpenis di sini ketika berbicara dengan pembaca yang budiman: orang pertama (aku atau saya), orang kedua dan orang lain. Banyak cerpenis memberi saran kepada pemula untuk menulis dengan POV sebagai orang pertama (aku atau saya).

Point of view (POV) dapat diartikan sebagai sudut pandang bercerita. Ada yang mengatakan pula bahwa sudut pandang berkenaan dengan ‘posisi pengarang dalam tulisannya”. Maka dari itu, pembaca yang budiman menjadi kunci prioritas POV. Seperti seorang pedagang, pembeli adalah raja, maka seorang cerpenis harus menempatkan pula pembaca yang budiman pada posisi ‘raja’.

Bila cerita tidak ditulis dengan apik dan menarik, maka pembaca acapkali bertanya: “Apa sih maksud cerpen ini?” Maka, membawakan cerita sedemikian rupa yang disukai oleh pembaca yang budiman menjadi krusial. Pembaca mau berlama-lama mendengarkan cerita cerpenis bila penulis dapat terampil bercerita. Bila sudah begitu, cerpenis berhasil melayani pembaca yang budiman dengan sebaik-baiknya.

Penulis melayani pembaca yang budiman dalam bentuk pemilihan POV, tema, plot dan tokoh cerpen yang tepat. Pengalaman akan menjadikan faktor penentu POV mana yang paling tepat dipilih oleh seorang cerpenis.

Misalnya, seorang cerpenis menggunakan tokoh POV “aku”. Dia menjadi tokoh utama dalam cerita itu. Dia akan mengeksplorasi pengalaman pribadi, perasaan, sikap, pandangan hidup dan segala hal dalam cerita itu. Sebaliknya pengalaman, perasaan, sikap, pandangan hidup dan segala hal lain yang terkait dengan tokoh lain di cerita dapat ditulis dalam bentuk ekspresi wajah, pernyataan dan gerak tubuh.

Contoh cerita dengan tokoh utama dengan sudut pandang POV ”aku” dapat seperti ini.

Bunyi SMS di telpon genggamku terdengar. Siapa sih di jam segini ada yang mengirim SMS. Sekitar jam 02.00 WIB suara bunyi SMS itu. Sungguh perbuatan iseng dan hanya ganggu orang istirahat saja. Telpon genggamku selalu berada dalam posisi on meskipun di tengah malam.

Bila ada ikhwahpun ngirim SMS paling-paling menjelang subuh. Aku masih berbaring di peraduan. Isteriku juga. Malas sebenarnya aku ingin meraih telpon genggam yang teronggok di atas meja samping.

”Anda mendapat hadiah mobil Alphard dari ..... (provider). Diharapkan Anda dapat telpon balik besok jam 10.00 WIB ke telepon ini. Anda mendapatkan hadiah kejutan dari .... (provider).” Aku baca pesan singkat di SMS dengan lamat-lamat karena masih ngantuk. Aku tidak peduli banget tetapi aku tidak mendelete pesan singkat itu. ”Aku pikir khabar penting, tetapi ternyata hanya SMS spam. Ganggu orang tidur aja!,” kataku membatin dengan kesal.

Terlihat sikap, perasaan dan gerak tubuhnya diungkapkan dengan jelas. Dia tidak dapat mengungkapkan tokoh lain dengan sebutan isterinya di sini. Apakah isterinya terganggu juga dengan suara sms atau gerak tubuhnya dan lainnya? Semua tidak dapat tergambarkan. Pembaca dapat melihat tokoh ’isteri’ hanya satu kalimat saja: ”Isteriku juga.” Maksudnya isterinya tokoh ”aku” berada dalam kondisi tertidur lelap.

Sang ‘tokoh isteri’ dapat menunjukkan perasaan tidak suka dan gerakannya yang mengganggu tidurnya bila dia bicara dan perilaku gerak geriknya. Tokoh ‘aku’ tidak dapat menyelami hal lain di luar tersebut di atas. Inilah kelemahan tokoh ‘aku’ bila Anda akan menggunakannya.

Penulis juga dapat mengambil POV lain berupa orang ketiga ”dia” atau tokoh rekaan yang menunjukkan orang ketiga. Perasaan, sikap, pengalaman dan lainnya dari tokoh rekaan ’dia” dapat diungkapkan dengan jelas. Penulis dapat menembus dan bersikap manasuka mengungkapkan pengalaman, pandangan hidup, sikap dan perilakunya. Dengan kata lain, penulis dapat menjadi serba tahu atas tokoh-tokoh yang ada di dalam ceritanya dari perilaku yang nampak hingga perasaan batin mereka.

Contoh sebuah cuplikan cerpen dengan POV orang ketiga “dia” atau tokoh dengan nama rekaan lainnya. Kita dapat menggunakan tema cerita di atas tentang seorang suami yang mendapatkan hadiah mobil Alphard dari sebuah provider, tetapi hadiah ini telah membuat keluarganya retak.

Sulaiman masih berdiri tegak dengan kunci raksasa mobil Alphard di tangan. Provider ponselnya telah memberikan hadiah promosi ini di sebuah acara televisi nasional. Dia tidak menyangka dapat berdiri di sana. Dia mencubit tangannya sendiri untuk meyakinkan apakah dia sadar atau hanya mimpi sesaat. Sulaiman hanyalah seorang pedagang yang membuka toko kecil di pojok jalan dekat sekolah menengah atas di Tanah Kusir.

Mobil Alphard sekarang berada di tanah kosong dekat rumahnya. Mentereng dan megah. Tetangganya bertanya-tanya mobil mewah itu miliki siapa? Setelah tahu Pak Sulaiman menjadi sopir untuk tetangganya yang ingin naik mobil mewah itu. Mereka minta diajak keliling Jakarta. Hatinya senang karena Pak Sulaiman sudah dianggap orang kaya raya sekarang. Tetapi, isteri Pak Sulaiman menjadi semakin prihatin. Gaya suaminya menjadi aneh-aneh. Mobil hadiah itu telah membuat hidup Pak Sulaiman seperti pria puber kedua.

Selain dua POV di atas, cerpenis dapat menggunakan tokoh orang kedua ’kamu.’ Tetapi, POV ini agak sulit diterapkan. Cerpenis pemula lebih baik menggunakan POV di atas. Hal ini juga lazim digunakan. Bila sudah sedikit mahir, boleh juga tuh gunakan POV orang kedua. Kali aja ada pengalaman lain yang lebih asyik dan berwarna. Yang penting teruslah berlatih karena ’practice makes you perfect!’

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar