Selasa, 20 Mei 2014

Arsip Nasional dan Kebangkitan Nasional

KOMPAS,  20 Mei 2014

Tulisan ini membahas hubungan antara Hari Kebangkitan Nasional dan pendirian Boedi Oetomo pada 20 Mei 1908.

Peluang dan Tantangan

Presiden Soekarno memperingati Boedi Oetomo sebagai momentum perlawanan terhadap penjajahan Belanda dengan ketua panitia peringatan Ki Hajar Dewantara pada 1948. Hal ini dilakukan di tengah persetujuan Renville pada Maret 1948 yang menciutkan wilayah kedaulatan RI di Jawa hanya mencakup Jawa Tengah dengan ibu kota Yogyakarta. Kemudian, Muso mengeluarkan komunike "Jalan Baru" yang berujung pada pemberontakan PKI di Madiun pada 18 September 1948. Lebih parah lagi, Yogya diduduki Belanda pada 19 Desember 1948. Oleh karena itu, begitu susah menegakkan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Dikutip pendapat Prof Dorodjatun Kuntjoro-Jakti bahwa masa depan negara bangsa Indonesia membutuhkan unsur geography, demography dan history. Dengan aspek geografi, Indonesia diberi "bonus demografi" berupa "bak zamrud di katulistiwa".  Dengan aspek history, sejarah adalah pengalaman perjalanan suatu bangsa, maka ada tiga filosofi sejarah: berjalan maju, bergerak spiral dan yang akan berulang. Indonesia adalah cita-cita dan konsep politik dalam pembentukan NKRI. Nazaruddin Syamsuddin menyebut Indonesia adalah "republik" ketiga; dua "republik" sebelumnya adalah Sriwijaya dan Majapahit. Meski merupakan bekas jajahan Belanda, George McTuman Kahin (1952) menyatakan terbentuknya nasionalisme Indonesia karena adanya "kebanggaan atas kejayaan kerajaan besar di Sumatera dan Jawa."

Ingatan Kolektif Bangsa
Fakta sejarah seperti pendapat Prof Dorodjatun sebagai "perekat bangsa" untuk mampu menjadi unsur soliditas bangsa dan kokohnya NKRI. Rakor Arsip Nasional sesuai dengan amanah UU No 43 Tahun 2007 tentang Kearsipan Negara atau memperkokoh NKRI.

Penulis:  Susanto Zuhdi; Guru Besar Ilmu Sejarah FIB Universitas Indonesia

Kebangkitan Nasional dan Revolusi Mental

KOMPAS,  20 Mei 2014

Bung Karno berkata lebih sulit membangun masyarakat daripada membangun negara. Membangun masyarakat haruslah berakar dari kepribadian masyarakat atau dikenal sebagai kepribadian dan kebudayaan bangsa. Dengan berhasil membangun masyarakat, membangun negara yang kuat menjadi lebih mudah diwujudkan termasuk sumber hukum negara itu. Bila tidak, Bung Karno sebut hal itu sebagai vroeg of laat (pagi atau sore hukumnya akan dirubah). Untuk itu, perlu mencari kembali kepribadian bangsa sendiri. Bung Karno katakan "Pancasila adalah hasil penggalian kepribadian bangsa Indonesia." Oleh karena itu, ingatlah sejarah terutama apa Sukarno katakan dalam pidatonya "Indonesia Menggugat" tentang keharusan membangun masyarakat.

Kesadaran Baru
Indonesia saat ini adalah tempat pengambilan bekal hidup dari kebutuhan barang dan dan produk industri hingga lapangan usaha bagi modal keuangan negara dan bangsa lain. Sebaliknya, kepribadian bangsa yang bersumber dari Pancasila luntur termasuk sumber hukum dalam cita-cita politik, sosial, ekonomi dan budaya. Oleh karena itu, perlunya kebangkitan kesadaran nasional untuk kembali ke Pancasila. Pelopor kebangkitan nasional Indonesia telah berhasil lepas dari kuasa kolonialisme-imperalisme dari lahirnya Budi Utomo (1908) hingga gerakan non-kooperatif dan Proklamasi 17 Agustus 1945. Saat ini dibutuhkan revolusi mental kebangkitan kesadaran seperti dilontarkan capres PDI-P, Joko Widodo. Revolusi ini mental hendaknya melahirkan manusia perbaruan, pionir kemajuan dan pelopor perubahan.

Spirit Bung Karno

Dalam pidato Bung Karno tahun 1957 dengan judul A Year of Decision, disebutkan tentang revolusi mental yang disebutnya sebagai Gerakan Hidup Baru. Bung Karno mengartikannya sebagai "menjadi manusia baru, yang berhati putih, berkemauan baja, bersemangat Elang Rajawali, berjiwa api yang menyala-nyala . . . untuk menyelesaikan satu perjuanganyang amat besar . . . " Atau kutipan kata-kata Bung Karno dari George Bernard Shaw, "Kebahagiaan sejati ialah membaktikan dirimu kepada sesuatu yang besar. Jika engkau mencoba berbuat sesuatu yang besar, maka bayangan kebesarannya sebagian jatuh kepadamu juga." Oleh karena itu, revolusi mental dapat direalisasikan dan dimonitor jika terealisasi.

Penulis: Puti Guntur Soekarno; Anggota Komisi X DPR Fraksi PDI-P

Biarlah Rakyat Menentukan

Kompas, 20/05/2014

Keputusan final tentang koalisi parpol pendukung capres dan cawapres pada Pilpres 9 Juli 2014 sudah terjawab: Jokowi-JK dan Prabowo-Hatta sudah terbentuk walau pembentukan koalisi berjalan alot. Pada Pilpres 2014, parpol wajib berkoalisi, termasuk PDI-P (18,95%) karena tidak memenuhi syarat ambang batas pencapresan (20%) kursi DPR atau 25 persen pemilu legislatif secara nasional. Kedua, dengan hasil suara yang merata, harga tawaran koalisi jadi tinggi. Ketiga, dengan rambu koalisi berbasis kesamaan haluan (platform) politik dan "ramping" dalam jumlah parpol koalisi, maka kompensasi kekuasaan atas dukungan politik pada Jokowi dan PDI-P ditunggu-tunggu. Keempat, hasil survei tentang dua capres pada Pilpres 2014 terbukti. Artinya, koalisi dengan PG dan PD kurang diminati dengan elektabilitas ARB yang rendah. Nasib PD juga serupa meskipun Dahlan Iskan sebagai hasil konvensi tetapi petinggi PD lebih cenderung usung Sultan Hamengku Buwono X atau Pramono Edhie Wibowo sebagai capres walaupun gagal. Dengan hasil survei ini, terjadi kegagalan pembentukan poros ketiga, misalnya antara PG dan PD karena buruknya kerjasama kedua parpol di masa lampau.

Politik Dua Kaki

Pilihan ARB berkoalisi dengan Prabowo dan Gerindra karena politik dua kaki PG. Pada 2004 berkali-kali pasangan yang diusung PG gagal (Wiranto-Salahuddin, Mega-Hashyim), tetapi PG dapat berkuasa melalui JK. Demikian pula pada Pilpres 2009 dengan kalahnya JK-Wiranto dari pasangan SBY-Boediono tetapi jatah kursi sama dengan parpol lain. Ini dilakukan pada Pilpres 2014 dengan mengusung JK sebagai cawapres Jokowi dan berkoalisi dengan Gerindra; siapapun yang menang, andil PG diakui untuk memperoleh bagian kekuasaan. Keputusan PG dengan Prabowo diambil ARB sebagai pemegang mandat Rapimnas Golkar 2014 sebagai strategi jitu.

Implikasi Format Koalisi

Koalisi ramping dengan total kursi PDI-P, PKB dan Nasdem hanya 207 kursi, maka bagi-bagi kursi tidak berlebihan sehingga kinerja pemerintah dapat maksimal. Tetapi, dengan jumlah kursi 207 (36,96%) di DPR, maka harus berjuang keras di Senayan. Tetapi, hal ini juga berlaku untuk Prabowo-Hatta dengan 292 kursi (52,1%) tetap berlaku. Diharapkan kebijakan pemerintah berpihak pada rakyat.

Syamsuddin Haris, Profesor Riset Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia

Minggu, 18 Mei 2014

SBY Kembali Salahkan Media

Media Indonesia, Senin 19 Mei 2014, hlm. 4

Ketum PD SBY menuding suara PD dalam Pileg 2014 merosot karena ulah media yang gencar memberitakan kasus korupsi elite PD. Dua lainnya adalah kader partai yang terkena kasus korupsi dan krisis kepemimpinan. Tudingan ini akibat suara PD turun dari 20% di Pileg 2009 menjadi 10,19% pada 2014. Dengan pemberitaan media, PD dituding partai korup. Persepsi publik dibangun oleh media. Tudingan SBY pada media sudah kesekian kalinya. Sebelumnya, media massa sebagai sebab rendahnya elektabilitas peserta konvensi capres Demokrat pada Jumat (16/5) dan kader Demokrat disudutkan media pada 12 Juli 2013. Berkenaan dengan koalisi di Pilpres 2014, PD akan umumkan pada 20 Mei. Rekomendasi mayoritas rapimnas PD menghendaki netral di pilpres dan melakukan pembenahan dan perbaikan internal.

Kamis, 24 April 2014

Badan Pelindung Koruptor

M Bashori Muchsin Guru besar dan Direktur Program Pascasarjana Universitas Islam Malang
Media Indonesia, Jumat 25 April 2014, hlm. 22.

SEBENARNYA sudah lama institusi peme riksa keuangan seperti Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) `ditersangkakan' oleh publik dan distigmatisasikan menjadi `badan pelindung koruptor'. Pasalnya, sudah beberapa kali, di luar kasus mantan Ketua BPK Hadi Poernomo ini, tidak sedikit pilar-pilarnya yang terlibat penyalahgunaan jabatan, baik ketika masih menduduki jabatan tertentu di instansi lain maupun ketika menjadi elemen BPK.

Meski oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Hadi Poernomo sudah ditetapkan menjadi tersangka, publik sudah tidak kaget. Mengapa demikian? Selain sudah banyak oknum di lembaga pemeriksa yang berpenyakitan imoralitas profetiknya, juga realitas problem korupsi sendiri yang masih mengultur dan menstruktur sehingga membuat koruptor bisa muncul dan berada di mana-mana.

Mulai dari ranah kementerian, parlemen, Komisi Yudisial (pengawas peradilan) hingga Mahkamah Konstitusi, misalnya, merupakan institusi yang mendahului atau menyertai BPK, yang beberapa oknumnya sudah diseret ke meja hijau akibat penyalahgunaan kekuasaan (abuse of power). Lembaga-lembaga strategis yang dipercaya rakyat ini ada oknumnya yang telah terjerumus menjadi institusi yang menciptakan pembohongan publik dengan cara memainkan jabatan mereka untuk mendapatkan uang, mulai mengamankan, meloloskan, hingga mendesain dirinya sendiri menjadi koruptor.

Dugaan BPK bermain-main dengan kasus korupsi misalnya dapat terbaca dalam audit Century dan Hambalang.

Suatu ketika, anggota Badan BPK Taufiequrachman Ruki mencurigai hasil audit investigasi BPK atas proyek pusat olahraga Hambalang, Bogor, Jawa Barat, diintervensi. Namun, lucunya setelah ramai jadi opini, Ruki justru meralat ucapannya. Ruki mengatakan tidak ada intervensi terhadap BPK. Yang benar ialah BPK memang belum merampungkan audit atas Hambalang.
Meskipun ada ralat demikian, dari pemeriksaan (temuan) awal menyebutkan BPK menemukan adanya uang muka proyek itu mengalir ke sejumlah korporasi. BPK kemudian mengkaji apakah pemberian uang muka itu sesuai aturan underlying transaction atau tidak. ubahan sikap Ruk Sehingga logis jika publik bertanya, ada apa dengan BPK atau apa sejatinya yang sedang terjadi di BPK?

Pertanyaan demikian logis ditembakkan kepada pimpinan BPK, karena badan auditor negara ini bertanggung jawab di ranah audit megaproyek yang sarat dengan muatan politik. Perlindungan istimewa Terlepas kasus Ruki itu, pelajaran besar diberikan lewat kasus Hadi Poernomo. Pasalnya, kasus ini semakin menunjukkan lembaga pengakeuangan atau tangkal korupsi terlibat dalam `pengadvo atau perlinkorupsiistimep a j was cegah i n i praktik kasian' kasian' dungan korupsi. Korupsi jak merupakan enis kasus korupsi istimewa, yang se mestinya menjadi prioritas BPK. Na mun, karena ketuanya sendiri (saat menjabat Dirjen Pa menjabat Dirjen Pajak) pernah `bermain-main' dengan korupsi pajak, ini layak di jadikan indikasi yang meniscayakan kalau tidak sedikit korupsi lainnya yang bukan tidak mungkin `diamendemen' (direkayasa) atau diendapkan oleh oknum BPK.

Sosiolog V Modrick pernah menyatakan, “Saat menyatakan, “Saat di masyarakat banyak tum buh subur penyakit penyimpangan jabatan, bisnis kekuasaan, penyalahgunaan etik profesi, atau kriminal elite berlaku arogan, eksklusif, dan pintar mengadaptasikan kekuasannya, itu menandakan kalau korupsi masih jauh dari harapan untuk bisa dihentikan.“ Pernyataan sosiolog itu menunjukkan membaca dan memahami model peny impangan kekuasaan yang berdaya dan menggurita dalam suatu negara atau pemerintahan ha rus dilakukan me lalui sikap atau perilaku aparat penegak hukum dan pengawas pembangunan.

Juga, masya rakat harus ditempatkan dalam kori dor embrio kriminal isasinya secara eskalatif ataupun masif.

Tidak akan sam pai terjadi dan marak kejahatan elitisme ka lau masyarakatatau sekelompok pejabat negara mau dan mampu menunjukkan semangat militansinya untuk mencegah dan memerangi korupsi.

Ketika sikap kelompok elite pengawas pembangunan atau keuangan negara tetap tidak konsisten saat berperang me lawan penja hat kelas elitis, inkonsistensi ini layak dibaca sebagai wujud peng adaan `bungker' bagi komunitas elitis yang sedang atau bermaksud memekarkan dan bahkan mengabsolutkan malapraktik jabatan atau kewenangan.

Lembaga-lembaga strategis bisa tergelincir menikmati atmosfer sebagai `badan pelindung atau pemproduksi korupsi', bilamana mereka tetap menjatuhkan opsi untuk memberikan yang terbaik pada kroni, keluarga, dan diri sendiri jika dibandingkan dengan memberi yang terbaik pada Bumi Pertiwi.

Opsi seperti itu identik dengan pembenaran berlakunya virus kronis atau `kanker' mematikan (korupsi). Elemen yang memilari lembaga negara bukannya menjadi institusi yang berdiri di garis depan jihad melawan penyakit, melainkan memilih jadi pengaman dan bahkan pendesain penyebaran virus.

Orde korupsi

Seharusnya mereka memahami korupsi itu berelasi dengan akar kriminogen yang tumbuh dan subur dalam suatu institusi strategis yang sarat penyakit, atau menghalalkan bersemainya beragam malversasi dan anomali. Kalau dalam institusi itu tumbuh subur pola bersikap dan berperilaku yang menoleransi dan memberikannya ruang liberalisasi praktik-praktik deviasi atau paradoksal dengan tatanan (rule of game), korupsi tidak akan sampai mengerucut dalam piramida absolutisme dan mencapai apa yang populer distigma `orde keemasan korupsi'.

BPK memang hanya salah satu sampel dari sekian banyak lembaga negara yang dicabik-cabik koruptor. Meski hanya salah satu sampel, jika sampelnya terus berganti-ganti wajah, ini menandakan kesuksesan koruptor dalam menciptakan atau membentuk `negara baru', dengan negara ini yang menjadi miniatur sejatinya negara formal. Kesuksesan koruptor ini berpangkal pada pola pengelolaan rezim yang masih kental menggunakan paradigma politik pengistimewaan atau pemihakan. Dalam ranah seperti inilah, koruptor sukses menciptakan liberalisasi sepak terjangnya.

Ruang liberalisasi itu pernah disebut oleh Ac Viday (2007), bahwa `kontribusi' terbesar bagi merajalela dan mengguritanya penyakit me nyimpang di zona elitisme, adalah akibat komunitas elitis yang dimanjakan atau mendapatkan berkah dari politik pengistimewaan yang digelar oleh para kroninya.

Seperti kata Viday itu, kita semestinya melakukan introspeksi bahwa gampang munculnya koruptor di balik ketiak kekuasaan atau jabatannya, tidak lepas dari sikap kita yang `tidak istimewa' dalam menghukum (menghakimi) koruptor. Koruptor tidak kita perlakukan sebagai penjahat keji dan serius yang mengambil hak-haknya, dan sebaliknya terbatas sebagai elite yang suka membohongi dan membodohi negara. Kita hanya menonton KPK menangkap berbagai tersangka koruptor dan kita terbatas pula menyerahkan kepada hakim untuk menjatuhkan sanksinya. Padahal, kita sebenarnya selain bisa mengefektifkan wasmas (pengawasan masyarakat), juga bisa menghukum secara radikal.

Menghukum secara radikal itu bisa diwujudkan dalam bentuk mengalienasikan diri dan keluarganya. Penjatuhan hukuman berlapis sudah menjadi kewenangan hakim secara istimewa untuk membuatnya jera dan menciptakan `virus' efek edukatif kepada generasi muda atau pejabat-pejabat lain yang belum terinfeksi korupsi. Namun, menghukum keluarga mereka yang tidak sedikit di antaranya yang menjadi `unsur pendukung' korupsi mereka dapat menciptakan ketakutan besar pada setiap elemen kekuasaan (negara).

Siapa pun elemen bangsa ini, khususnya para pejabat, yang masih berpikiran normal tentulah mengakui kalau korupsi merupakan kejahatan yang terbilang serius atau penyakit kanker yang potensial menghancurkan leburkan negeri ini. Siapa yang bersikap apatis dan tidak menunjukkan sikap radikalismenya itu terhadap koruptor, lubanglubang yang membuat koruptor bisa banjir di mana-mana mustahil bisa ditutup. Jadikan koruptor sebagai common enemy. 

Minggu, 10 Maret 2013

Do Research Before Writing: Tulisan Bermutu Haruslah Berbasis Penelitian

Kalimat Do Research Before Writing seakan-akan mengharuskan setiap penulis melakukan penelitian karena dalam keseharian banyak tulisan dibuat tanpa disertai dengan kegiatan penelitian terlebih dahulu. Bila tanpa penelitian, banyak kegiatan menulis gagal total. Ibarat pisau, kebuntuan di dalam kegiatan penulisan dapat terpecahkan dengan penelitian.

Bayangkan seorang wartawan tidak turun ke lapangan. Dapat dipastikan apa yang dilakukan sang wartawan adalah mengarang berita. Suratkabar tempat dia bekerja akan mempublikasi berita karangannya. Apa yang terjadi? Pihak redaksi akan dibanjiri surat pembaca, sms, email dan telepon. Masyarakat akan mempertanyakan kebenaran berita karangan wartawan itu. Atau berita itu dapat menimbulkan kepanikan di masyarakat.

Bila terjadi, dapat dipastikan masa depannya sebagai seorang wartawan akan berakhir. Atau pihak redaksi merasa kecolongan. Pihak tersebut tidak melakukan kegiatan keredaksian dengan baik. Redaktur tidak sama sekali melakukan cross check tentang data yang wartawan itu peroleh.

Di dunia akademis, seorang mahasiswa pasti harus melalui apa yang disebut sidang skripsi/thesis/disertasi. Di sidang skripsi/thesis/disertasi, setiap hal akan ditanyakan. Penguji yang terdiri dari dosen, dekan dan rektor akan bertanya bagaimana metode pengumpulan data dan metode pengolahan data penelitian.

Dengan kegiatan penelitian, terlihat seorang penulis memiliki bahan dasar berupa hasil penelitian. Hasil penelitian menjadi bahan ide tulisannya. Ide segar seakan-akan mengalir deras tanpa henti. Bagian penelitian yang dia kehendaki dapat diambil untuk menyempurnakan tulisannya dan apa yang tidak diabaikan. Secara tidak sadar, ide dari hasil penelitian yang diabaikan merupakan faktor pemerkaya tulisan itu pula. Inilah manfaat penelitian sebelum menulis. 

Ada tiga tujuan yang dapat diraih dari kegiatan penelitian:

1. Tulisan berbasis penelitian mengajarkan pembaca sesuatu yang baru. Sesuatu yang baru dapat berkenaan dengan perspektif atau alternatif cara berpikir. Perspektif atau alternatif cara berpikir akan lebih berarti ketika memasukkan pendapat pribadi di dalamnya. Tentu, Anda akan memberi penilaian secara pribadi atas berbagai perspektif atau cara berpikir itu.

2. Tulisan berbasis penelitian membantu pembaca tentang kepakaran Anda di bidang itu. Ini memungkinkan pembaca mendaulat Anda sebagai seorang pakar. Tidaklah mengherankan berbagai penulis di bidang tertentu kemudian dapat diminta pendapat berbagai macam tentang bidang tersebut. Ini sebagai bentuk pendaulatan Anda sebagai pakar bidang itu.

3. Tulisan berbasis penelitian haruslah bersifat komprehensif. Tulisan semacam ini memungkinkan Anda mengumpulkan dan menyampaikan berbagai perspektif yang berbeda tentang sastu topik kepada pembaca. Termasuk di dalam tulisan itu, perspektif yang bertentangan dengan pandangan penulis itu sendiri. Inilah  kearifan seorang penulis di dalam kegiatan tulis menulis ini. 

Untuk memulai penelitian, Anda harus mencari apa yang disebut dengan keyword. Keyword adalah sebuah konsep yang memiliki nilai dan makna tertentu di dalam penelitian di satu bidang ilmu tertentu. Analisis keyword biasanya digunakan di kalangan penggiat marketing online. Nama lain dari keyword adalah konsep. Konsep adalah kata yang memiliki makna dan nilai tertentu. Konsep merupakan batu bata dari sebuah tulisan dan biasanya dikumpulkan di akhir sebuah buku sebagai indeks.

Untuk mencari konsep yang tepat, sekali lagi Anda harus banyak membaca. Cara yang paling mudah untuk melakukan penelitian sebelum Anda menulis adalah mencari informasi di internet. Ini sumber yang paling memungkinkan untuk dilakukan. Ada segi praktis. Di internet pula, tersedia banyak data. Apalagi jaringan internet Anda bagus dan jarang hang.
Dari konsep yang Anda gunakan, pastikan Anda melakukan berbagai hal berikut ini. Pertama, cari latar belakang konsep-konsep terkait. Anda dapat melihat konsep-konsep itu secara komprehensif atau menyeluruh atau spesifik. Jangan membiarkan diri Anda terlalu spesifik tetapi dengan melupakan pengetahuan yang general. Ingat selalu aspek specific versus general di dalam penelitian.

Kedua, konsep itu harus pula dikaitkan dengan berita terkait. Data mengenai berbagai info terakhir mengenai satu tema menarik pula dikaitkan dengan up-to-date kasus itu sendiri. Jadi jangan lupa mencari info berita. Berkenaan dengan berita pula, Anda harus pastikan Anda dapat memperoleh atau mengikuti berita paling up-to-date. Cara ini memungkinkan Anda tidak terlalu ketinggalan zaman denggan perkembangan terakhir.

Kemudian, fakta dan informasi yang diperoleh di dalam penelitian dapat digunakan secara berbeda-beda. Anda dapat menggunakannya untuk kepentingan personal semata. Hal ini biasanya tidak membutuhkan topik pembahasan topik yang mendalam. Di sini Anda hanya ingin tahu satu permasalahan saja.

Pada tingkat yang lebih tinggi, fakta dan informasi itu dapat digunakan lebih dari hanya sebagai data dan fakta saja. Fakta dan informasi itu berubah menjadi bukti. Bukti ini dapat digunakan untuk menguji dan mendukung jawaban atas pertanyaan Anda. Jadi, harus ditegaskan di sini adalah fakta dan informasi itu merupakan bukti untuk diuji dan mendukung jawaban atas satu pertanyaan.

Pernyataan di atas dapat formulasikan sebagai berikut:

I. Saya membahas topik X (Presiden Soeharto),
II. Karena saya menemukan topik Y (mengapa Presiden Soeharto sebagai bapak bangsa),

III. Dengan demikian, saya dapat membantu pembacaa lain memahami topik Z (bagaimana konsepsi bapak bangsa itu seorang presiden negeri ini membentuk karakter bangsa yang elitis).

Dari formula di atas, dapat disimpulkan, peneliti melakukan penelitian mulai dari minat pribadi. Poin I memberikan alasan mengapa keingintahuan atas satu konsep itu penting seperti kasus Presiden Soeharto. Tetapi, seorang peneliti jangan berhenti di topik X saja, tetapi harus diberi pertanyaan mengapa (why). Konsep what di poin I berkaitan dengan opini, sedangkan konsep why berkaitan dengan reasons (alasan). Selain kedua topik itu, di poin III ada topik how. Ini berkaitan dengan bukti-bukti. Oleh karena itu, formula di atas begitu menarik. Anda dapat mengerjakan jenis penelitian apapun juga yang Anda sukai untuk tulisan Anda.

Senin, 21 Januari 2013

Boleh Juga Teknik Menulis Ini



Menulis memang dapat memotivasi orang lain tetapi lebih penting lagi kegiatan menulis Anda dapat dilakukan dengan cepat dan terhindar dari kejenuhan. Ini persoalan yang selalu dihadapi penulis ketika menghadapi hambatan dan mengalami kejenuhan.

Penulis pernah melihat seorang teman menulis dengan cara yang cepat mengutip tulisan orang. Caranya adalah mengambil satu bagian blog dan menandakan dan langsung memasukkan di dalam tulisan.

Cara ini paling mudah dan cepat. Anda tidak harus meninggalkan pekerjaan lain. Selain itu, Anda dapat menulis dalam jumlah yang banyak.  

Anda dapat melakukan seperti ini. Ambil satu bagian yang menarik dari sebuah tulisan:

Temanya: Don’t Overwork Yourself.

Penjelasannya: Overworking is no good because the motivation to work the next day is taken from you. So, in the end, you actually end up getting less done if you overwork than if you simply allowed yourself to stop and play for a little bit.

Contoh lain:

Tema: Write

Pembahasan: When you don’t feel motivated to write your poem, short story, novel, then don’t write that. But, please do write. Write in your journal, write on you blog, write on your notepad. It can be awful, it can be brilliant. It doesn’t matter. Write in your head. Write something that will remind you what motivates you so that you are motivated to write, and maybe motivate others to do the same. That’s what I did.

Cara ini memungkinkan produktifitas tetap tinggi. Waktu tersedia lebih banyak untuk menulis. Karena menulis adalah menulis (write is write, write and write). Karena tidak perlu hambatan lain sebagai faktor penghambat dari tidak memiliki pengetahuan atas sesuatu yang sedang ditulis.

Faktor tidak memiliki pengetahuan atas sesuatu harus diatasi dengan cepat. Cara teman dapat ditiru. Pertama, kutip sebuah bagian buku walaupun sampai beberapa paragraf.

Cara agar tidak plagiat adalah jangan verbatim. Rubahlah kutipan langsung. Menjadi tidak langsung. Ubah menjadi summary dan parafrase. Cara ini dapat dibenarkan tidak ada yang salah. Oleh karena itu, cara yang cepat untuk menulis adalah cara teman itu kemudian PEMBEDANYA adalah Anda membuat summary dan parafrase. Misalnya, kutipan langsung di atas Anda ubah dengan mengikhtisarkannya sebagai berikut.

Kutipan langsung di atas Anda dapat diubah menjadi bentuk di bawah ini.

Jangan berlebih-lebihan dalam bekerja. Bekerja terlalu sering lebur akan membuat Anda lelah dan jenuh. Keesokan hari Anda dapat tidak bekerja atau sakit. Inilah persoalan yang dihadapi mereka yang terlalu memaksakan diri untuk bekerja.  

Atau contoh berikutnya tentang menulis:

Seorang penulis pasti pernah mengalami kehilangan gairah untuk menulis. Anda tidak dapat menulis puisi, cerpen, novel. Jadi, caranya tinggalkan sementara menulis puisi, cerpen, novel atau lainnya. Tetapi, Anda tetap menulis dengan merubah medianya saja. Anda menulis di jurnal, di blog atau di notepad. Menarik! Anda tetap tidak kehilangan originalitas menulis dan instink menulis tetapi rasa jenuh itu dimainkan secara positif. Anda dapat menulis jenis tulisan lain yang penting membuat Anda terus aktif menulis dan terus menulis. Ini pengalaman lain seorang penulis yang bernama Ollin dalam tulisannya tentang 10 Tricks to Motivate Yourself to Write-Right Now.

Anda tinggal menambahkan sumbernya dengan memperhatikan aspek cara pengutipan dan memberi hak kepada pemilik pernyataan yang Anda kutip itu. Kemudian rubahlah menjadi paragraf dengan menetapkan ketentuan paragraf (kalimat topik, kalimat pendukung, kalimat penutup dan kalimat penjelas).

Agar tidak lari ke sana ke mari, Anda harus menggunakan PENGENDALI, yaitu thesis. Dengan demikian, Anda dapat menulis artikel dengan cepat dan mudah. Tidak perlu takut melakukannya tanpa kuatir dengan plagiarisme.