Tampilkan postingan dengan label sudut pandang. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sudut pandang. Tampilkan semua postingan

Senin, 04 Juli 2011

Kalimat Tesis: Petunjuk Arah untuk Tulisan Anda

Apakah yang penting dalam kegiatan tulis menulis? Topik atau pokok bahasan. Benar tetapi belum tepat. Topik atau pokok pembahasan itu masih netral atau tanpa makna. Banyak orang akan membahas sebuah topik yang sama tetapi misalnya dengan sudut pandang yang berbeda. Anda harus mempersempit topik itu dengan memasukkan unsur tujuan, bukti atau fakta dan sudut pandang. Hasilnya topik itu lebih bermakna dan mengarahkan Anda sebagai penulis ketika menulis dan sebagai pembaca ketika memahami sebuah tulisan sebagai satu kesatuan yang utuh.

Lihat Tajuk Rencana Kompas (4 Juli 2011) dengan judul Keringanan Pajak PTS. Judul ini mengenai keringanan pajak di lembaga perguruan tinggi swasta. Biasa saja kan! Kurang menggigit dan bermakna! Kemudian, penulis Tajuk Rencana Kompas itu memasukkan unsur bukti atau fakta (keringanan pajak PTS), sudut pandang (paradigma mengenai lembaga pendidikan) dan tujuan tulisan (ada perubahan mendasar) dalam kalimat berikut ini: “Berkenaan dengan keringanan pajak PTS, ada perubahan mendasar dalam paradigma mengenai lembaga pendidikan.

Kalimat yang berisi unsur tujuan, bukti atau fakta dan sudut pandang itu berbentuk kalimat deklaratif. Kalimat deklaratif yang dikenal sebagai kalimat tesis (thesis sentence) berarti harus berbentuk kalimat berita. Hal ini akan menjadi fondasi struktur argumentasi dalam tulisan. Tulisan Anda haruslah mengikuti kalimat tesis ini. Sebaliknya bila sebuah tulisan dengan kalimat tesis ini tetapi menyampaikan argumentasi yang tidak sesuai dengan kalimat tesis, maka tulisan Anda akan melebar dan tidak mempunyai makna sama sekali.

Acapkali pula hal itu terjadi karena kita tidak menyadari apakah kalimat tesis itu. Semua kalimat disusun menjadi kalimat dan paragraf, tetapi bukan merupakan satu kesatuan makna. Akibatnya Anda menulis sebuah tulisan apa adanya. Sebaliknya bila Anda menulis dengan menyusun kalimat tesis sedemikian rupa, maka pembaca akan memahami maksudnya dengan sejalas-jelasnya. Anda juga tidak harus berputar-putar mencari bahan tulisan.

Dari Tajuk Rencana Kompas (4 Juli 2011) di atas, kalimat tesis sudah memenuhi asas kalimat deklaratif. Penulis tajuk itu, kemudian membahas kalimat tesis itu dalam beberapa paragraf. Pada paragraf-paragraf berikutnya, Anda dapat melihat sebuah paragraf dipimpin dengan satu kalimat utama. Kalimat utama di semua paragraf di tulisan itu akan merujuk ke kalimat tesis. Ada enam kalimat utama dalam tajuk di atas yaitu: lembaga pendidikan secara konseptual merupakan lembaga sosial bukan lembaga ekonomi; pungutan Pajak Penghasilan serta Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) bagi perguruan tinggi swasta (PTS) yang selama ini dikenakan merupakan realisasi salah kaprah; sesuai UU yayasan, swasta tidak dipunggut PBB dan pajak-pajak lainnya; salah kaprah tentang PTN dan PTS telanjur mengakibatkan terbangunnya penilaian bahwa negeri itu warga negara kelas satu dan swasta negara kelas dua; swasta seharusnya tidak dimatikan lewat berbagai kebijakan, taruhlah contoh guru-guru berstatus PNS ditarik dari sekolah swasta; tidak tertutup kenyataan, banyak lembaga pendidikan swasta didirikan dan diselenggarakan dengan motivasi ekonomi; negari dan swasta bukanlah dua entitas yang harus bersaing; kita dukung rencana peringanan pajak bagi PTS sebagai awal realisasi kemitraan.

Sebagai penulis, Anda harus menengok ulang kalimat tesis ini. Anda dapat merubah kalimat tesis itu. Apabila setelah melakukan penelitian, kalimat tesis itu tidak mendapatkan dukungan data dan fakta semestinya. Akibatnya, tulisan Anda akan dapat dipatahkan karena argumentasi tulisan Anda lemah. Karena itu, perombakan kalimat tesis suatu yang lazim dan biasa dilakukan baik sebelum, selama dan sesudah Anda menyelesaikan tulisan. Sepanjang argumentasi Anda dalam tulisan jangan sampai mudah dipatahkan dan tanpa dukungan bukti dan fakta sama sekali.

Pada contoh lain, Anda dapat menganalisis artikel berita tentang pemilihan umum di Thailand. Kalimat tesisnya adalah “Partai Puca Thai yang dipimpin Yingluck Shinawatra - adik PM tersingkir, Thaksin Shinawatra - menang telak, menurut hasil sementara pemilihan umum.” Kalimat thesis ini berbeda dengan contoh sebelumnya, terletak pada kalimat pertama. Biasanya tulisan pendek menempatkan kalimat thesis di kalimat pertama.

Bila ditempatkan di kalimat akhir paragraf, fungsinya adalah menegaskan kembali apa yang sudah ada di kalimat awal pada paragraf tersebut. Hal ini dapat dibaca pada artikel berita Kompas (4 Juli 2011) dengan kalimat tesis sebagai berikut: “Pemerintah belum menetapkan keputusan pengelolaan BBM” (dengan beberapa perubahan tanpa merubah arti kalimat tesis).

Dengan kata lain, kalimat tesis dapat dikatakan menjalankan fungsinya sebaik-baiknya apabila kalimat utama dalam paragraf-paragraf di tulisan merujuk pada pondasi tersebut. Pada bagian kesimpulan, kalimat tesis dapat dirubah sedemikian rupa pula tetapi dengan maksud sama plus usulan atau rekomendasi yang pembaca sebaiknya harus lakukan. Fungsi tulisan adalah mempersuasi pembaca agar mengikuti pandangan kita dan peran ini ada pada kalimat tesis.

Rujukan lain: http://jerz.setonhill.edu/writing/academic/thesis.htm

Jumat, 18 Februari 2011

Sudut Pandang dalam Cerpen

Salah satu unsur intrinsik cerpen adalah sudut pandang (point of view). Di antara unsur intrinsik lainnya tema, tokoh, plot, sudut pandang juga berperan penting untuk membangun cerita secara apik dan menarik. Sudut pandang (POV) lebih berkaitan dengan posisi cerpenis dalam cerita. Ada tiga posisi yang digunakan cerpenis di sini ketika berbicara dengan pembaca yang budiman: orang pertama (aku atau saya), orang kedua dan orang lain. Banyak cerpenis memberi saran kepada pemula untuk menulis dengan POV sebagai orang pertama (aku atau saya).

Point of view (POV) dapat diartikan sebagai sudut pandang bercerita. Ada yang mengatakan pula bahwa sudut pandang berkenaan dengan ‘posisi pengarang dalam tulisannya”. Maka dari itu, pembaca yang budiman menjadi kunci prioritas POV. Seperti seorang pedagang, pembeli adalah raja, maka seorang cerpenis harus menempatkan pula pembaca yang budiman pada posisi ‘raja’.

Bila cerita tidak ditulis dengan apik dan menarik, maka pembaca acapkali bertanya: “Apa sih maksud cerpen ini?” Maka, membawakan cerita sedemikian rupa yang disukai oleh pembaca yang budiman menjadi krusial. Pembaca mau berlama-lama mendengarkan cerita cerpenis bila penulis dapat terampil bercerita. Bila sudah begitu, cerpenis berhasil melayani pembaca yang budiman dengan sebaik-baiknya.

Penulis melayani pembaca yang budiman dalam bentuk pemilihan POV, tema, plot dan tokoh cerpen yang tepat. Pengalaman akan menjadikan faktor penentu POV mana yang paling tepat dipilih oleh seorang cerpenis.

Misalnya, seorang cerpenis menggunakan tokoh POV “aku”. Dia menjadi tokoh utama dalam cerita itu. Dia akan mengeksplorasi pengalaman pribadi, perasaan, sikap, pandangan hidup dan segala hal dalam cerita itu. Sebaliknya pengalaman, perasaan, sikap, pandangan hidup dan segala hal lain yang terkait dengan tokoh lain di cerita dapat ditulis dalam bentuk ekspresi wajah, pernyataan dan gerak tubuh.

Contoh cerita dengan tokoh utama dengan sudut pandang POV ”aku” dapat seperti ini.

Bunyi SMS di telpon genggamku terdengar. Siapa sih di jam segini ada yang mengirim SMS. Sekitar jam 02.00 WIB suara bunyi SMS itu. Sungguh perbuatan iseng dan hanya ganggu orang istirahat saja. Telpon genggamku selalu berada dalam posisi on meskipun di tengah malam.

Bila ada ikhwahpun ngirim SMS paling-paling menjelang subuh. Aku masih berbaring di peraduan. Isteriku juga. Malas sebenarnya aku ingin meraih telpon genggam yang teronggok di atas meja samping.

”Anda mendapat hadiah mobil Alphard dari ..... (provider). Diharapkan Anda dapat telpon balik besok jam 10.00 WIB ke telepon ini. Anda mendapatkan hadiah kejutan dari .... (provider).” Aku baca pesan singkat di SMS dengan lamat-lamat karena masih ngantuk. Aku tidak peduli banget tetapi aku tidak mendelete pesan singkat itu. ”Aku pikir khabar penting, tetapi ternyata hanya SMS spam. Ganggu orang tidur aja!,” kataku membatin dengan kesal.

Terlihat sikap, perasaan dan gerak tubuhnya diungkapkan dengan jelas. Dia tidak dapat mengungkapkan tokoh lain dengan sebutan isterinya di sini. Apakah isterinya terganggu juga dengan suara sms atau gerak tubuhnya dan lainnya? Semua tidak dapat tergambarkan. Pembaca dapat melihat tokoh ’isteri’ hanya satu kalimat saja: ”Isteriku juga.” Maksudnya isterinya tokoh ”aku” berada dalam kondisi tertidur lelap.

Sang ‘tokoh isteri’ dapat menunjukkan perasaan tidak suka dan gerakannya yang mengganggu tidurnya bila dia bicara dan perilaku gerak geriknya. Tokoh ‘aku’ tidak dapat menyelami hal lain di luar tersebut di atas. Inilah kelemahan tokoh ‘aku’ bila Anda akan menggunakannya.

Penulis juga dapat mengambil POV lain berupa orang ketiga ”dia” atau tokoh rekaan yang menunjukkan orang ketiga. Perasaan, sikap, pengalaman dan lainnya dari tokoh rekaan ’dia” dapat diungkapkan dengan jelas. Penulis dapat menembus dan bersikap manasuka mengungkapkan pengalaman, pandangan hidup, sikap dan perilakunya. Dengan kata lain, penulis dapat menjadi serba tahu atas tokoh-tokoh yang ada di dalam ceritanya dari perilaku yang nampak hingga perasaan batin mereka.

Contoh sebuah cuplikan cerpen dengan POV orang ketiga “dia” atau tokoh dengan nama rekaan lainnya. Kita dapat menggunakan tema cerita di atas tentang seorang suami yang mendapatkan hadiah mobil Alphard dari sebuah provider, tetapi hadiah ini telah membuat keluarganya retak.

Sulaiman masih berdiri tegak dengan kunci raksasa mobil Alphard di tangan. Provider ponselnya telah memberikan hadiah promosi ini di sebuah acara televisi nasional. Dia tidak menyangka dapat berdiri di sana. Dia mencubit tangannya sendiri untuk meyakinkan apakah dia sadar atau hanya mimpi sesaat. Sulaiman hanyalah seorang pedagang yang membuka toko kecil di pojok jalan dekat sekolah menengah atas di Tanah Kusir.

Mobil Alphard sekarang berada di tanah kosong dekat rumahnya. Mentereng dan megah. Tetangganya bertanya-tanya mobil mewah itu miliki siapa? Setelah tahu Pak Sulaiman menjadi sopir untuk tetangganya yang ingin naik mobil mewah itu. Mereka minta diajak keliling Jakarta. Hatinya senang karena Pak Sulaiman sudah dianggap orang kaya raya sekarang. Tetapi, isteri Pak Sulaiman menjadi semakin prihatin. Gaya suaminya menjadi aneh-aneh. Mobil hadiah itu telah membuat hidup Pak Sulaiman seperti pria puber kedua.

Selain dua POV di atas, cerpenis dapat menggunakan tokoh orang kedua ’kamu.’ Tetapi, POV ini agak sulit diterapkan. Cerpenis pemula lebih baik menggunakan POV di atas. Hal ini juga lazim digunakan. Bila sudah sedikit mahir, boleh juga tuh gunakan POV orang kedua. Kali aja ada pengalaman lain yang lebih asyik dan berwarna. Yang penting teruslah berlatih karena ’practice makes you perfect!’